Hari ini Jum’at, 25 Oktober 2024 Bapelkes Provinsi Jawa Tengah melaksanakan kegiatan Pertemuan dalam rangka…
Covid-19 dan Sistem Edukasi Masyarakat
Pandemi Covid-19 mendorong kita untuk memikir ulang tentang banyak hal. Satu diantaranya adalah tentang bagaimana pentingnya sistem edukasi masyarakat tentang kesehatan. Utamanya, karena keberhasilan dalam menanggulangi pandemi covid ini sangat tergantung pada sikap dan perilaku masyarakat.
Kita bisa merenungkan ulang, mengapa dalam banyak hal masyarakat cenderung enggan diajak kompromi untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah atau lembaga kesehatan? Padahal, dalam situasi sekarang, kepatuhan itu menjadi variabel sentral yang menentukan seberapa lama pandemi ini mencapai titik akhir.
Ada banyak sebab masyarakat tidak patuh. Namun, secara umum, sebagaimana dikemukakan Kurt Lewin (1936) perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara faktor orang dan lingkungan. Singkatnya, perilaku sama dengan fungsi dari unsur-unsur yang ada dalam diri seseorang mental dan faktor lingkungan.
Setiap orang memiliki proses mental dan ciri-ciri fisik yang beragam. Itu yang menyebabkan orang menunjukan perilaku berbeda-beda saat mereka dihadapkan pada situasi yang sama. Namun di sisi lain, secara kolektif, orang juga menampilkan banyak perilaku yang hampir sama. Hal itu dapat kita lihat ketika kita membandingkan satu kelompok masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Dalam hal kepatuhan pada protokol kesehatan misalnya, sebagian masyarakat lebih patuh di banding dengan masyarakat yang lain. Misalnya, antara masyarakat Singapura, Indonesia, Jepang, dan Vietnam masing-masing memiliki tingkat kepatuhan berbedab-beda.
Mengapa bisa demikian? Tentu, hal itu tidak muncul dengan tiba-tiba. Adanya perilaku kolektif yang unik juga dilandasi oleh proses-proses mentalitas kolektif yang khas. Karena orang memiliki pikiran dan memori kolektif yang serupa dan terhubung, sehingga mereka berperilaku relatif seragam.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana masyarakat memiliki memori kolektif yang relatif serupa? Ada beragam proses yang melatarinya. Namun, pada intinya, itu terjadi karena proses belajar yang berlangsung di antara mereka. Baik belajar dalam setting formal maupun informal.
Dan proses belajar sendiri dapat direkayasa. Dalam arti, ia dapat dirancang, didesain, serta diarahkan dengan cara tertentu untuk membentuk sikap-sikap dan perilaku tertentu. Diantaranya agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan atau memiliki kebiasaan hidup sehat yang lain.
Dengan demikian, agar masyarakat patuh tidak dapat dilakukan hanya dengan memberikan instruksi, namun perlu usaha untuk membelajarkan mereka. Perlu menjadikan mereka sadar, paham, hingga memiliki motivasi serta intensi untuk berperilaku yang sehat dan diharapkan.
Tentu, membelajarkan masyarakat yang jumlahnya ribuaan atau jutaan, harus dilakukan dengan tersistem. Dalam hal ini, pemerintah dan lembaga-lembaga kesehatan memiliki peran yang sentral dan vital. Salah satunya adalah lembaga pendidikan dan pelatihan, seperti Bapelkes.
Lembaga seperti Bapelkes dapat menyiarkan informasi-informasi lewat beragam pelatihan atau seminar online kepada tenaga kesehatan. Karena Bapelkes memiliki kemungkinan untuk mennghadirkan ahli-ahli kesehatan yang kapabel di bidangnya untuk menyampaikan informasi yang akurat tanpa diembel-embeli kepentingan bisnis.
Namun, yang sering terjadi, daya jangkau informasi tersebut baru sebatas tenaga kesehatan. Yang setelah tenaga kesehatan, informasi tersebut akan melingkar di seputar tenaga kesehatan. Sistem yang mengantarai agar informasi dari tenaga kesehatan hingga mengalir ke publik yang lebih luas masih belum terbangun.
Dari situ muncul pemikiran, bagaimana dapat mengintegrasikan sistem edukasi kesehatan yang dengan coverage dampak yang lebih luas. Informasi-informasi tentang kesehatan yang menjadi program pemerintah dapat diterima secara lebih utuh oleh masyarakat dalam skala yang lebih luas.
Dengan sistem yang lebih baik, masyarakat tidak sekedar mendapatkan tetesan-tetesan informasi atau informasi yang bias tentang kesehatan, namun mereka setiap saat dapat terpapar informasi yang kredibel. Sampai kemudian mereka memikili kepercayaan yang dalam kepada lembaga-lembaga kesehatan, sehingga akan relatif lebih patuh ketika diberi instruksi.
Hal itu dapat dilakukan tidak hanya pada penyelesaia Covid, namun dapat menjadi alternatif pendekatan untuk menyelesaikan masalah-masalah kesehatan yang lain. Misalnya, pencegahan penyakit TBC, … dan yang lain. Dengan tindakan-tindakan edukasi tersebut, usaha-usaha preventif di bidang kesehatan akan berjalan kebih baik. Hal demikian tentu akan membutuhkan anggaran yang lebih kecil dibandingkan dengan tindakan-tindak kuratif. Ini hanya sebuah gagasan dan pemikiran, perlu respon banyak pihak agar ia dapat mewujud dalam kenyataan.

Comments (0)